Menyiapkan Pemimpin yang Melayani

Memandang kondisi Indonesia hari ini, kita akan mendapati begitu banyak kesedihan, tentang orang-orang yang terusir dari tanah lamanya. Tentang bangunan-bangunan yang semakin gagah berdiri dengan mengorbankan rakyatnya, yang seringkali muaranya adalah pada pemimpin-pemimpin hari ini, dari kepala daerah hingga anggota dewan yang terhormat. Kasus terbaru terkait pengelapan pajak beberapa orang penting negeri ini, dengan teganya mereka tidak membayar pajak. Sementara rakyat kecil terus digerus pajak yang semakin tinggi. Belum lagi tingkah salah satu anggota dewan yang dengan bangganya menganggap perjalanan keluar negeri bersama keluarga harusnya didanai negara. Entah berada dimana hatinya.

Kita hari ini begitu rindu pada sosok pemimpin yang mampu bersikap melayani rakyatnya. Mohammad Hatta, Natsir dan Agus Salim contohnya. Pemimpin yang mampu menempatkan kepentingan rakyat diatas kepentingannya. Mereka lahir dari tempaan hidup yang keras. Hidup ditengah rakyat yang dijajah. Merasakan penderitaan rakyat secara langsung. Memiliki tujuan yang jelas. Untuk Indonesia merdeka. Maka tawaran masa depan indah bekerja bersama penjajah dapat dengan lugas mereka tolak. Demi rakyat, demi Indonesia merdeka.

Menyiapkan pemimpin yang melayani bukan hanya tugas individu. Ini adalah tugas gotong royong kita bersama. Menyiapkan pemuda yang kelak mampu menjadi pemimpin yang melayani bagi rakyatnya. Sedikitnya #GerakanPemudaRevolusiMental dapat memulainya dengan cara:

Pertama. Mengadakan kongres #GerakanPemudaRevolusiMental yang menghadirkan pemimpin-pemimpin muda. Pemuda yang telah berkarya bagi daerahnya. Ini adalah awal untuk mempertemukan pemuda se-Indonesia untuk saling mengenal dan saling bertukar cerita tentang karya, tentang budaya, tentang daerahnya. Kongres #GerakanPemudaRevolusiMental dengan jargon #SalamRejuvenasi mampu menjadi jembatan pemuda-pemuda ini lebih dekat mengenali Indonesia dari karya pemudanya.

Kedua. Pendampingan dan monitoring pemuda. Setelah kongres #GerakanPemudaRevolusiMental selesai, akan dilakukan pendampingan dan monitoring untuk menjaga ritme gerakan yang telah terbentuk, serta memantau perkembangan kemajuan pemuda yang menjadi peserta kongres #GerakanPemudaRevolusiMental.

Ketiga. Mengembangkan kepemimpinan berdasarkan permasalahan daerah. #GerakanPemudaRevolusiMental dapat bekerjasama dengan pemerintah daerah atau komunitas-komunitas kepemudaan dimana peserta kongres #GerakanPemudaRevolusiMental berasal, agar peserta dapat memahami permasalahan daerahnya dengan lebih baik. Selain itu hal ini pun juga dapat menjadi pintu dibukanya kolaborasi dengan pihak-pihak lain.

Keempat. Kelas online. Hari ini telah begitu banyak media sosial yang dapat digunakan untuk mempermudah komunikasi. Hal ini tentu membantu pemuda Indonesia yang terpisah pulau untuk dapat saling bertukar kabar, saling membagi inspirasi kegiatan, serta selain itu dengan kelas online, kita dapat mendekatkan pemuda dengan orang-orang yang lebih ahli dengan bidang yang sejenis dengan peserta kongres #GerakanRevolusiMental.

Inti dari keempat cara diatas adalah internalisasi nilai-nilai gerakan dan perluasan kolaborasi karya pemuda. Menyiapkan pemimpin yang melayani adalah tentang pemimpin yang hidup untuk kepentingan rakyatnya, dan nilai-nilai #GerakanPemudaRevolusiMental telah mencakup hal tersebut, maka melakukan internalisasi nilai kepada pemuda calon pemimpin masa depan menjadi penting untuk dilakukan.

Perluasan kolaborasi karya pemuda perlu dilakukan agar lebih banyak pemuda yang berkarya bersama untuk Indonesia. Hingga nantinya masa depan Indonesia adalah tentang karya-karya pemudanya. Karya-karya calon pemimpin masa depan Indonesia. #SalamRejuvenasi.

Menyiapkan Pemimpin yang Melayani

Tantangan Menulis dan Buku

Oktober 2014, DM1 KAMMI UNS akan segera berlangsung, panitia membuat belbagai ide menarik untuk mendongkrak jumlah pendaftar. Saat itu saya mengajukan ide kepada salah satu panitia DM1 untuk membuat tantangan menulis di FB. Hadiah yang saya tawarkan untuk empat orang dengan like terbanyak adalah gratis biaya DM1 dan satu orang dengan like terbanyak akan mendapatkan sebuah buku.

Peserta DM1 yang mengikuti tantangan ini ternyata hanya berjumlah satu orang. Padahal tantangan sudah dibuat sangat mudah. Menuliskan alasan mendaftar DM1 di note FB peserta. Kenapa kami memberikan tantangan dengan bahan tulisan seperti itu. Karena kami ingin mencari peserta yang mendaftar DM1 bukan karena paksaan.

Ide tantangan menulis ini kemudian tidak hanya berakhir di DM1, tetapi saya ajukan kepada salah satu admin FB KAMMI UNS agar dapat berlanjut. Akhirnya kami membuat kesepakatan. Tantangan menulis berhadiah buku kembali digelar, dengan syarat yang sama, hanya tema kami ubah. Menuliskan opini tentang Indonesia atau dunia Islam.

Lanjutkan membaca “Tantangan Menulis dan Buku”

Tantangan Menulis dan Buku

Tas, Demokrasi, dan Mahkamah Konstitusi

Tas, awalnya jadi alat bantu membawa barang. Kemudian belbagai macam bentuk lahir terpengaruh mode dan gaya. Selain itu tas, kerapkali hadir dalam seminar dan belbagai kegiatan, ia jadi buah tangan bagi peserta. Tas penuh tanda dan tulisan, pembentuk citra panitia kegiatan.

Tas berbentuk koper jadi alat bantu Mohammad Hatta, Proklamator kita, memindahkan buku, menemaninya dalam pembuangan. Buku membantunya menulis tentang demokrasi. Pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Demokrasi berintikan daulat rakyat dalam bahasa Hatta.

Tahun 1998, kedaulatan rakyat dan demokrasi jadi salah satu tuntutan reformasi. Tiga puluh dua tahun terpenjara dalam orde baru. Rakyat ingin bebas, lahirkan reformasi meski lautan darah jadi harga yang harus dibayar. Perubahan Undang-Undang Dasar (UUD) hingga munculnya Mahkamah Konstitusi (MK) jadi ikhtiar merawat demokrasi.

Lanjutkan membaca “Tas, Demokrasi, dan Mahkamah Konstitusi”

Tas, Demokrasi, dan Mahkamah Konstitusi

Narasi Anies Baswedan Membangun Indonesia

new_Merawat-Tenun-KebangsaanJudul Buku      : Merawat Tenun Kebangsaan (Refleksi Ihwal Kepemimpinan, Demokrasi, dan Pendidikan)

Penulis             : Anies Baswedan

Cetakan           : Pertama, Februari 2015

Halaman          : 250 Halaman

Penerbit           : Serambi Ilmu Semesta

ISBN               : 978-602-290-003-0

Buku “Merawat Tenun Kebangsaan (Refleksi Ihwal Kepemimpinan, Demokrasi, dan Pendidikan)” adalah kumpulan tulisan Anies Baswedan sejak 1997. Buku ini berisi narasi membangun Indonesia dari kaca mata seorang Anies Baswedan.

Bagi Anies Baswedan, masa depan gemilang seperti janji kemerdekaan hanya bisa diraih melalui optimisme kolektif. Kini, saatnya membentangkan kembali optimisme kolektif bangsa ini (hlm 59). Dan syarat untuk itu kita memerlukan pemimpin yang menggerakkan! Pemimpin yang membuat semua terpanggil untuk turun tangan, untuk bekerja bersama meraih cita-cita bersama. Pemimpin yang kata-kata dan perbuatannya menjadi pesan yang solid yang dijalankan secara kolosal (hlm 64).

Lanjutkan membaca “Narasi Anies Baswedan Membangun Indonesia”

Narasi Anies Baswedan Membangun Indonesia

Memperdebatkan Kembali Pancasila dan Islam

www.tifafoundation.org
http://www.tifafoundation.org

Judul buku                  : Pancasila dan Islam (Perdebatan antar Parpol dalam Penyusunan Dasar Negara di Dewan Konstituante)

Penyuting                 : Erwin Kusuma dan Khairul

Cetakan                     : Pertama, September 2008

Jumlah halaman     : xxviii + 423 halaman

Penerbit                     : Baur Publishing

ISBN                           : 978-979-16291-0-2

Dewan Konstituante dibuat untuk membentuk konstitusi Indonesia yang baru menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia (UUDS RI). Dalam sidang Dewan Konstituante, perdebatan akan dasar negara menjadi perdebatan yang panjang, melebihi perdebatan ditahun 1945. Tiga usulan diajukan menjadi dasar negara, yaitu; Pancasila, Sosial-Ekonomi dan Islam. Buku “Pancasila dan Islam (Perdebatan antar Parpol dalam Penyusunan Dasar Negara di Dewan Konstituante)” adalah kumpulan beberapa naskah pidato wakil rakyat yang duduk di Dewan Konstituante, berisi tentang perdebatan antara Pancasila dan Islam sebagai dasar negara.

Buku ini berisi pandangan dari fraksi Partai Nasional Indonesia (PNI) yang diwakili oleh Soewirjo, Nur Sutan Iskandar dan Roeslan Abdoelgani       . Pandangan dari fraksi Masjumi yang diwakili oleh Moh. Natsir, Kasman Singodimedjo, Rusjad Nurdin, Moh. Isa Anshary, Abdul Kahar Muzakkir dan Hamka. Pandangan dari fraksi Nahdlatul Ulama (NU) yang diwakili oleh Achmad Zaini, Syarifuddin Zuhri, Zainul Arifin, A. Wahab Chasbullah, dan Masjkur.

Lanjutkan membaca “Memperdebatkan Kembali Pancasila dan Islam”

Memperdebatkan Kembali Pancasila dan Islam

1000 PAUD untuk Indonesia

Program 1000 PAUD untuk Indonesia adalah program yang memberikan akses pendidikan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, dengan penekanan pada pendidikan karakter sejak dini bagi mereka.

Saat ini, puluhan juta anak kurang mampu di Indonesia masih belum mendapatkan pendidikan usia dini. Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Komunitas Menara mengajak Anda untuk bersama bergandengan tangan mewujudkan kepedulian terhadap pendidikan yang menghasilkan generasi baru penerus tongkat estafet peradaban bangsa yang berbudi tinggi, berkarakter kuat, berpengetahuan luas dan berpikiran terbuka.

Lanjutkan membaca “1000 PAUD untuk Indonesia”

1000 PAUD untuk Indonesia

Lamanya -_-

Woooo lama banget blog ini ga di update!! -_- udah gitu aja, semoga seminggu lagi bisa update berupa tulisan opini lagi -_- maaf (yang karena apa saya kurang tahu) tiba-tiba membuka link dan terdampar ditulisan geje ini

Lamanya -_-