Menyentuh Kesadaran Jakarta

JAKARTA, Ibu Kota negara kita saat ini sedang menjadi sorotan banyak media baik cetak maupun dunia maya, pasalnya agenda lima tahun sekali yang bernama pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Jakarta sedang berlangsung. Di saat inilah nantinya warga Jakarta akan memilih ujung tombak perubahan untuk menyelesaikan masalah dikotanya, memilih pemimpin yang mereka percayakan mampu membuat perubahan di kota Jakarta.
Berlangsungnya pemilukada menyebabkan kondisi daerah khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta menjadi lebih berwarna dari biasanya. Dimulai dari warna merah, biru, putih, hijau sampai kuning berebut tempat memenuhi sisi-sisi kosong sudut kota Jakarta, menambah kesan Jakarta yang semakin padat.

Kemacetan di Jakarta saat ini telah dianggap sebagai situasi yang wajar oleh kebanyakan warganya. Seolah-olah warga Jakarta yang telah berputus asa itu berkata, “Siapa pun pemimpinnya, dia tetap tidak akan mampu menyelesaikan masalah ini.”

Kondisi kemacetan menjadi semakin parah saat pemilukada, apalagi pada saat kampanye calon gubernur dan wakil gubernur (cagub dan cawagub) berlangsung. Jika kita perhatikan, hal ini menjadi ironi tersendiri bagi cagub dan cawagub yang berjanji mengatasi kemacetan di Jakarta. Pasalnya, ternyata pendukungnya pada saat berkampanye di jalan-jalan kota Jakarta justru ikut berkonstribusi menyebabkan kemacetan.

Inti dari masalah klasik yang sampai saat ini masih dihadapi oleh Jakarta tersebut adalah kesadaran warga Jakarta terhadap lingkungan sekitarnya. Contoh kecilnya adalah membuang sampah pada tempatnya. Di Jakarta, sampah dapat dengan mudah kita temukan di ruang-ruang publik, berserakan di sembarang tempat. Bahkan, sering kali banjir Jakarta disebabkan oleh tertutupnya saluran air karena sampah.

Pemimpin Jakarta ke depan, seharusnya mampu menyentuh kesadaran warga Jakarta untuk bergerak bersama dalam menyelesaikan permasalahan Jakarta. Kemampuan ini mutlak dimiliki oleh pemimpin Jakarta nantinya, seperti pendapat Anies Baswedan “You are a leader if, and only if, you have followers”. Karena sekali lagi, masalah yang dihadapi Jakarta seperti kemacetan dan banjir adalah masalah yang hanya dapat diselesaikan oleh gerakan kolektif warganya yang dipimpin dengan keteladanan.

Konyolnya, di setiap berakhirnya kampanye cagub dan cawagub, kita dihadapkan oleh kenyataan banyaknya sampah berserakan di tempat kampanye. Hal yang terlihat kecil ini justru membuat kita menjadi ragu dengan kapasitas calon pemimpin Jakarta tersebut karena menyadarkan pendukungnya saja belum mampu, apalagi menyadarkan warga Jakarta yang lain.

Kemampuan untuk menyentuh kesadaran warga Jakarta berasal dari karakter serta kepribadian cagub dan cawagub sendiri. Karena, warga Jakarta akan melihat sejauh apa integritas seorang calon dari kehidupannya sehari-hari; apakah tingkah laku dan ucapan saat berkampanye sama ataukah hanya pencitraan tanpa kemampuan? Untuk menyentuh kesadaran warga Jakarta diperlukan contoh teladan yang baik dari calon yang nantinya terpilih, dia harus benar-benar total menyerahkan dirinya untuk membangun Jakarta yang dibuktikan dengan karya nyata, sehingga warga Jakarta dapat merasakan secara langsung semangat kesadaran  dari calon pemimpinnya tersebut untuk membangun Jakarta yang nantinya mampu menyentuh kesadaran warga Jakarta.

Masalah adalah hal yang tidak dapat kita hindari, ia akan selalu setia menemani kita selama kita hidup, masalah ada untuk dihadapi, karena darinya kita akan semakin dewasa dalam memandang kehidupan. Jakarta yang telah berumur 485 tahun sudah seharusnya mampu mendewasakan dirinya dengan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya. Dan itu semua bermula dari pemimpin yang mampu menjadi teladan serta mampu menyentuh kesadaran warga Jakarta agar mau bergerak bersama membangun kota tercintanya.

Kuncoro Probojati
Presiden BEM Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo

http://kampus.okezone.com/read/2012/07/24/367/667717/menyentuh-kesadaran-jakarta

Menyentuh Kesadaran Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s