Belajar dari Piagam Madinah

Indonesia terkenal akan keragaman yang ada dalam tubuhnya, perbedaan suku, agama, ras, dan golongan berada dalam satu tubuh, yaitu tubuh Indonesia.

Tidak bisa kita pungkiri, terkadang perbedaan ini menjadi isu pemecah persatuan paling mudah, menjadi hal yang sangat sensitif untuk dibahas. Isu-isu konflik yang dilatarbelakangi perbedaan dengan mudah membesar layaknya api yang siap melahap kayu-kayu kering, sebut saja beberapa kasus dari Poso,Ambon hingga yang terakhir Sampang menjadi goresan-goresan luka di tubuh Indonesia.

Kondisi persatuan dalam banyak hal berbeda seperti ini juga pernah dialami Madinah, kota kecil yang menjadi tujuan hijrah Nabi Muhammad,kota penuh perbedaan yang disatukan dengan instrumen hukum yang bernama Piagam Madinah,sebuah piagam yang terbentuk untuk mengakomodasi kepentingan mayoritas maupun minoritas, sebuah piagam yang membawa semangat persatuan tanpa ketimpangan. Piagam Madinah saat itu menjadi instrumen hukum yang dengan tegas diberlakukan pemerintah untuk menjaga koridor toleransi terhadap perbedaan agar tetap tercipta kerukunan.

Pemerintah pada saat itu mampu menciptakan perasaan aman dan nyaman bagi warganya. Negeri ini sebenarnya telah memiliki instrumen hukum yang mirip dengan Piagam Madinah,instrumen itu bernama Pancasila dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Sayangnya saat ini Pemerintah Indonesia tidak tegas menerapkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Negara pun gagal menciptakan perasaan aman bagi warga negaranya, khususnya mereka yang termasuk golongan minoritas.

Ketegasan menjadi kunci dari keberhasilan penerapan Piagam Madinah. Tanpa ketegasan dari pemerintah tentu kerukunan Madinah tidak akan pernah tercipta, begitu pun dengan negeri ini, Indonesia, diperlukan ketegasan dari pemerintah agar Pancasila mampu menjadi instrumen pemersatu dalam perbedaan. Madinah memang kota yang kecil,tidak dapat kita bandingkan dengan Indonesia, sebuah negeri yang begitu luas, terdiri atas ratusan pulau dengan ragam kebudayaan yang lebih banyak dari Madinah,tapi kita tentu dapat belajar arti toleransi dari Madinah dan arti ketegasan hukum dari Piagam Madinah.

Semangat persatuan dalam Pancasila bukan hanya mimpi. Sadar atau tidak kita sebagai warga negara Indonesia, sebagai anak yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi seharusnya mampu menghargai perbedaan dan mewujudkan toleransi dalam Pancasila menjadi semangat persatuan untuk Indonesia yang lebih baik,Indonesia tanpa penindasan.

KUNCORO PROBOJATI

Presiden BEM FH UNS

suara mahasiswa harian seputar indonesia tanggal 10 September 2012

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/525002/

Belajar dari Piagam Madinah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s