Belajar (Kembali) Mencintai Indonesia

Soekarno dan Hatta, bapak proklamator kita beberapa hari yang lalu baru saja diresmikan sebagai pahlawan nasional (7/11), tentu berkaca dari perjuangan mereka selama ini gelar pahlawan nasional dapat dianggap hal “yang sudah seharusnya” bagi kedua sosok yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

 

Berbicara tentang pahlawan, selalu menghadapkan kita pada orang – orang yang mau berkorban demi orang lain lebih luas lagi untuk bangsa dan negaranya. Contohnya Hatta yang pernah berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka dan ia menepatinya.

Pahlawan terdahulu bukanlah mereka yang menempatkan diri pada jalur penuh tepuk tangan, justru pengasingan, intaian peluru serta ancaman – ancaman kematian yang lebih banyak mengisi hari – hari perjuangan para pahlawan. Sebuah pilihan yang sangat luar biasa demi kemerdekaan Indonesia.

 

Terlihat jelas ciri khas seorang pahlawan adalah mereka yang menempatkan kepentingan orang lain bahkan negaranya di atas kepentingannya sendiri, sebuah sifat yang kini sulit kita temukan pada pejabat negeri ini yang dianggap berperan sebagai perwakilan rakyat Indonesia.

 

Mengutip kata – kata Rahmat Abdullah “Cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai fikiranmu, sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di saat lelapmu” seperti itulah kekuatan besar dari sebuah rasa yang bernama cinta.

 

Rasa cinta para pahlawan terhadap bangsa ini, yang kemudian membuat mereka mampu berkorban sangat besar bagi Indonesia, tetap berusaha menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa meski nyawa taruhannya.

 

Sungguh sangat miris melihat pejabat negeri yang seharusnya mampu menempatkan diri menjadi pahlawan bagi rakyat miskin tetapi justru bertindak sesuka hati bahkan cenderung lebih banyak yang mementingkan diri sendiri hingga tega melakukan korupsi.

 

Menjadi sangat mengenaskan banyak pemuda hari ini yang kemudian malu mengaku diri sebagai bagian dari Indonesia. Seakan lupa bahwa penilaian terhadap suatu bangsa juga dapat dipengaruhi dari tingkah laku warganegaranya yang artinya bisa jadi mereka juga berkonstribusi pada penilaian negatif terhadap bangsa ini.

 

Kita memang bebas memilih untuk tetap mencintai Indonesia atau terus menghujat Indonesia, tapi bukankah akan lebih bijak jika kemudian kita mau berusaha memiliki ciri khas sifat pahlawan diatas, berusaha menjadikan diri sebagai bagian dari solusi permasalahan bangsa, daripada menghujatnya terus menerus.

 

Berusaha mewujudkan pesan cinta para pahlawan yang tertuang dalam alinea keempat pembukaan Undang – Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang berbunyi “untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”

 

Jika rasa cinta ini telah memudar mari bersama kita tumbuhkan kembali rasa cinta terhadap negeri ini. Sebuah negeri yang terbentuk dari darah dan air mata para pahlawan masa lalu. Melanjutkan perjuangannya menjadi garuda muda yang siap berbakti untuk ibu pertiwi karena rasa cinta yang bergelora di dalam hati. Mari belajar kembali untuk  mencintai Indonesia. Belajar dari jalan cinta para pahlawan.

 

Kuncoro Probojati

 

http://kampus.okezone.com/read/2012/11/15/367/718759/belajar-kembali-mencintai-indonesia

Belajar (Kembali) Mencintai Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s