Simfoni Karya Pahlawan Muda

http://eramadina.com/simfoni-karya-pahlawan-muda/
http://eramadina.com/simfoni-karya-pahlawan-muda/

Tulisan ini telah dimuat dalam Opini Eramadina.com 20 November 2013

http://eramadina.com/simfoni-karya-pahlawan-muda/

“Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku,

ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku”

(Mohammad Hatta-Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia)

Apa yang dikatakan Bung Hatta, salah satu negarawan Indonesia diatas seharusnya patut  kita renungi bersama, jika hari ini Indonesia dikenal sebagai negara terkorup, negara termalas, negara terbodoh, serta  julukan-julukan bernada negatif lainnya, mungkinkan itu juga karena ulah kita? Karena kita menganggap korupsi sebagai jalan memuluskan masalah, karena kita malas berkarya sehingga sampai sekarang masih menjadi konsumen kelas berat, atau karena kita tidak suka mencari tahu apa yang terjadi sehingga tertinggal dari negara lain?

Mencaci negeri ini adalah pekerjaan paling mudah saat ini, menyalahkan negeri atas semua kegiatan negatif yang terjadi, seolah-olah kita tidak bersalah atas apa yang terjadi, benarkah seperti itu, mari renungkan kembali pesan Bung Hatta di atas, negeri ini tumbuh karena perbuatan kita warganegaranya, masih pantaskah kita menyalahkan tanah pertiwi? Tidak malukah kita melempar kesalahan ini? Padalah ia tumbuh dari segala perbuatan kita, anaknya.

Indonesia sebenarnya dapat bangkit sekali lagi, tapi ia perlu bantuan kita, khususnya bantuan dari pemuda Indonesia, bantuan yang dilakukan segenap anak bangsa, kumpulan pemuda yang siap berjuang untuk kemajuan bangsanya. Untuk itu yang kita perlukan adalah semangat dalam persatuan, mengingat kembali sumpah yang dulu pernah bergelora pada tanggal 28 Oktber 1928, satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia.

Perjuang pemuda 1928 dalam sumpah pemuda telah menyatukan visi perjuangan pemuda saat itu dari yang semula berorientasi kedaerahan menjadi berorientasi kebangsaan, visi yang akhirnya mengantarkan negeri ini pada pembacaan proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, mengantarkan Indonesia pada pintu gerbang kemerdekaan, melalui semangat persatuan, semangat gotong royong memperjuangkan negeri.

Maka saat ini semangat gotong royong ini harus kembali bergelora, seperti yang disampaikan Anies Baswedan, Rektor Paramadina, “Bukan lagi urun angan, tapi mari turun tangan” Bersama melunasi janji kemerdekaan yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 “Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”

Mari turun tangan menyumbang karya untuk Indonesia, jika saat ini karya-karya pemuda Indonesia masih terpisah-pisah maka menyatukannya menjadi sebuah simfoni adalah jalan terbaik menyusun nada-nada kebangkitan Indonesia, meminjam tema dari pelatihan Forum Indonesia Muda (FIM) ke-15, menjadi Simfoni Karya Pahlawan Muda, karena simfoni lahir dari nada-nada berbeda yang menyatu sehingga membuatnya terdengar indah, sedangkan disebuat pahlawan muda karena karya yang dibuatnya untuk kemajuan bangsa.

Nada-nada yang tersusun indah dalam dunia musik tentu akan dengan asyik dinikmati oleh banyak orang, perbedaan alat musik dengan harmoni nada yang berbeda dapat menciptakan simfoni yang indah contohnya seperti lagu yang berasal dari Indonesia yaitu Bengawan Solo buatan Gersang yang dikenal hingga negera jepang.

Seperti itulah perbedaan nada yang dimainkan dengan indah dari tangan sang maestro, ia mampu menciptakan simfoni indah, berbeda dengan seorang pemula yang bermain musik, sering kali saat bermain karena kurangnya keahlian memainkan nada-nada dalam seni terdengan nada-nada sumbang yang dirasa kurang pas saat dimainkan.

Begitupun dengan Perbedaan, jika kita bingkai dengan manis tentu dapat tercipta keindahan, tapi jika kurang bijak memainkan perbedaan maka yang ditemukan sering kali berupa perpecahan, mirip nada-nada sumbang yang tercipta dari tangan-tangan pemain pemula, maka dengan semangat sumpah pemuda kembali kita satukan karya-karya pemuda Indonesia, agar terdengar indah sebagai simfoni karya pahlawan muda

Optimisme akan kebangkitan Indonesia harus selalu digelorakan dengan karya terbaik pemuda, optimisme ini harus menyebar dengan bantuan seluruh warganegara Indonesia, karena lari dari tanggung jawab mengubah Indonesia sama artinya dengan menyerahkan negeri ini kepada mafia-mafia kemanusian yang hampir mengisi seluruh lini trias politica, dari eksekutif, legislatif, bahkan yudikatif tidak lepas dari permainan mafia kemanusiaan hari ini.

Satu batang lidi akan dengan mudah dipatahkan, tapi kumpulan batang lidi yang menjadi sapu lidi tentu akan mampu membersihkan Indonesia dari mafia-mafia kemanusian yang kini tengah asyik merongrong Indonesia, mengotori nama baik Indonesia, menjadikannya terpuruk di mata dunia.

Mari menyatukan karya untuk Indonesia, memperbanyak karya-karya anak bangsa agar Indonesia dapat bangkit menjadi negara yang lebih kuat, menjadi negara yang tidak lagi di pandang sebelah mata oleh negara lain dan itu di mulai dari kita warganegaranya karena negeri ini lahir dari perbuatan kita. Salam Garuda, berkarya untuk bangsa.

Simfoni Karya Pahlawan Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s