Pola Pengasuhan Anak dan Masa Depan Bangsa

www.blogpsikologi.com
http://www.blogpsikologi.com

Anak adalah pemimpin-pemimpin masa depan bangsa, karena mereka yang akan menggantikan pemimpin negeri hari ini, mirisnya kini kita dihadapkan pada kasus sex bebas yang dilakukan siswa sekolah menengah pertama, pelecehan agama dalam gerakan solat, tawuran pelajar serta kekerasan lainnya yang juga dilakukan oleh pelajar, maka sangat mirislah kondisi Indonesia masa depan dengan kondisi pelajarnya yang seperti ini.

 

Masalah ini yang kemudian menjadi fokus perbaikan pendidikan Indonesia, yang kemudian melahirkan pendidikan berbasis karakter, perubahan kurikulum hingga perubahan sistem penilaian siswa, tapi setelah semua upaya itu dilakukan ternyata perubahan yang siknifikan belum terjadi karena sejatinya dasar dari setiap pendidikan yang utama adalah pendidikan dalam lingkungan keluarga, hal ini yang tidak terdapat dalam pendidikan formal kita.

Pendidikan tentang keluarga seharusnya masuk kedalam kurikulum pendidikan formal kita, aspek penting kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan pendidikan dilingkungan keluarga, berupa pola pengasuhan yang mampu mengembangkan potensi terbaik anak. Berapa banyak suami-istri baru yang kebingungan dalam menerapkan pola pengasuhan untuk anaknya?. Mirisnya apa yang dilakukan hanya mengikuti apa yang diterapkan oleh orang tuanya dulu tanpa memikirkan efek perkembangan sang anak kedepannya.

 

Pengenalan tugas dan tanggung jawab seorang suami dan istri dalam pola pengasuhan seorang anak sudah seharusnya diberikan sedini mungkin, karena perkembangan watak dan karakter anak sangat ditentukan pola pengasuhan orang tuanya. Anak yang selalu dituruti segala kemauannya tentu akan menjadi orang tua yang manja, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak berani menentukan nasibnya sendiri, kehilangan kendali dalam menentukan arah hidupnya.

 

Menyerahkan pola pengasuhan 100% pada pengasuh anak bagi orang tua yang tidak memiliki waktu karena sibuk bekerja, tentu sangat beresiko karena menjauhkan sang anak dari kasih sayang kedua orang tuanya, sang anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang nakal hanya karena ingin diperhatikan oleh kedua orang tuanya, tentu hal ini sangat merugikan orang tua serta lingkungan sekitarnya, bahkan dapat merugikan negara karena bertambahnya masalah bagi bangsa ini.

 

Menuntut sang anak terus menerus juga tidaklah baik, karena menyebabkan anak menjadi takut untuk mengambil resiko, menjadi tidak mandiri, dan sering mencari-cari alasan atas ketidakmampuannya, lebih bijak kiranya jika kita mengajarkan sang anak dari sejak dini tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi dari setiap akibat pilihan-pilihan yang dilakukannya, jika sang anak telah mampu memimpin dirinya sendiri tentu kedepan dia akan mampu memimpin teman-temannya, kemudian memimpin komunitasnya, dan akhirnya mampu memimpin negaranya.

 

Faktor pengasuhan memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak, mengajarkan sang anak tentang konsekuensi dari setiap pilihannya akan sangat baik untuk perkembangannya karakternya, selain itu mengajarkan anak untuk mengenal dirinya sendiri itu penting agar anak tahu apa potensi terbaiknya, sehingga dapat dengan maksimal mengembangankan potensi yang dimilikinya.

 

Anak-anak dengan harga diri yang rendah diakibatkan dibesarkan dengan suasana pengasuhan yang kurang hangat, orang tua yang selalu menuntut, dan tidak memberikan kasih sayang yang cukup bagi anak, hal ini tentu akan menyebabkan disorientasi saat anak telah memasuki masa dewasa, sedangkan anak dengan harga diri positif yang dibesarkan dengan suasana pengasuhan yang hangat akan mampu memimpin diri, memimpin orang lain dan memiliki potensi untuk memimpin bangsa ini.

 

Banyak orang tua yang tidak siap menjadi orang tua, mereka hanya menikah tanpa dipersiapkan menjadi orang tua sebelumnya, tanpa dipersiapkan pentingnya pola pengasuhan anak terhadap masa depan anaknya, tanpa dipersiapkan ilmu tentang tugas seorang ayah dan seorang ibu bagi pola pengasuhan anaknya, orang tua yang tidak memiliki tujuan akan dibentuk seperti apa anaknya kedepan.

 

Elli Risman, Psikolog anak, saat pelatihan Forum Indonesia Muda (FIM) ke-14 menyebutkan tujuh tujuan pengasuhan seorang anak yaitu, (1) menyiapkan anak menjadi hamba Allah yang baik, (2) menyiapkan anak menjadi suami/istri, (3) menyiapkan anak menjadi ayah/ibu, (4) menyiapkan anak menjadi profesional, (5) menjadikan anak laki-laki sebagai pendidik bagi istri dan anaknya, (6) menjadikan anak laki-laki sebagai pengayom, (7) menjadikan anak bermanfaat bagi orang lain.

 

Tujuan pola pengasuhan ini sudah seharusnya dipahami oleh seluruh orang tua di dunia khususnya di Indonesia agar lebih jelas dan terarah dalam menerapkan pola pengasuhan pada anaknya, karena di tangan anak-anak Indonesia, masa depan bangsa ini dipertaruhkan, entah menjadi bangkit berjuang menuju cita-cita bangsa menjadi negara maju atau justru jatuh terpuruk menjadi negara gagal.

 

Mari menjadi orang tua yang cerdas, yang mempersiapkan diri dengan ilmu pengasuhan anak sedini mungkin, agar mampu membentuk pribadi dan karakter anak yang berguna bagi nusa dan bangsa, yang mampu menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa, untuk Indonesia yang lebih baik.

Pola Pengasuhan Anak dan Masa Depan Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s