Loyalitas Salah Kaprah

www.tempo.co
http://www.tempo.co

Tulisan ini telah dimuat dalam Eramadina.com pada 6 Februari 2014

http://eramadina.com/loyalitas-salah-kaprah/

Loyalitas dapat kita artikan sebagai bentuk kesetiaan diri untuk patuh pada sesuatu, baik kepada kelompok maupun individu. Loyalitas juga bermakna bentuk rasa solidaritas terhadap lingkungan yang kita rasakan berjasa bagi kita.

Loyalitas terhadap sekolah atau almamater biasanya diciptakan bersamaan dengan acara penerimaan siswa atau mahasiswa baru. Dengan dalih menciptakan rasa cinta terhadap almamaternya, tidak jarang momen ini disalahgunakan beberapa oknum untuk sekaligus menurunkan kebiasaan–kebiasaan buruk, seperti dendam antar almamater yang bisa mengakibatkan perpecahan antar siswa. Adapun bentuk lain dari penyelewengan makna loyalitas juga ada pada aktivitas tawuran.

Tawuran kini semakin terasa telah menjadi semacam indikator keberanian dan kebersamaan yang digunakan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan almamater atau sekolahnya, hal ini menjadi paradoks tersendiri ditengah–tengah gencarnya pemerintah menyosialisasikan pendidikan berkarakter.

Salah kaprah dalam memahami makna loyalitas seperti ini, justru berpotensial menciptakan perpecahan–perpecahan kecil di tubuh Indonesia, jika tidak segera ditanggulangi, bisa jadi ke depannya akan tercipta Indonesia yang jauh dari bhineka tunggal ika, jauh dari makna persatuan karena mudah terpecah belah atas nama loyalitas terhadap kelompok–kelompok kecil.

Pendidikan seharusnya mampu menciptakan manusia yang mendahulukan penyelesaian masalah dengan cara–cara yang lebih elegan yaitu dengan menggunakan kemampuan intelektual bukan dengan menggunakan cara–cara kekerasan seperti tawuran.

Kesadaran persatuan pemuda dalam bingkai keindonesiaan sebenarnya sudah pernah terekam dalam peristiwa sejarah masa perjuangan Indonesia yang bernama sumpah pemuda, sumpah yang diucapkan perwakilan – perwakilan pemuda se-Indonesia agar bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa yang satu dalam bingkai keindonesiaan.

Senada dengan sumpah pemuda, konstitusi kita juga telah mengatur agar semangat persatuan menjadi bagian dari pendidikan Indonesia yaitu dalam Undang – Undang Dasar tahun 1945 (UUD 1945) setelah amandemen perubahan IV yang disahkan 10 Agustus 2002 pada pasal 31 ayat 5 yang berbunyi “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai–nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Kita sepenuhnya sadar, pemerintah tidak akan mampu mewujudkan tujuan pendidikan seperti yang tercantum dalam undang–undang diatas tanpa bantuan seluruh elemen bangsa Indonesia, mari ikut mengawal dan bersama-sama wujudkannya, agar terciptanya Indonesia yang sejahtera dan beradab.

Loyalitas Salah Kaprah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s